KUTAI BARAT –
Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) kembali menunjukkan ancamannya di
wilayah Kabupaten Kutai Barat. Pada Kamis (9/7/2026) siang, si jago merah
mengamuk dan melalap kurang lebih 10 hektare hamparan ilalang serta kebun milik
warga di RT 01, Kampung Empas, Kecamatan Melak.
Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti munculnya
titik api di area dengan koordinat -0.288342, 115.807628 tersebut masih menjadi
misteri dan dalam tahap penyelidikan pihak berwenang.
Kronologi Kejadian dan Respon Cepat Tim Gabungan
Berdasarkan data terkini yang dihimpun oleh Pusat
Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)
Kabupaten Kutai Barat, kemunculan api pertama kali diperkirakan terjadi pada
pukul 13:15 WITA menurut kesaksian warga di lapangan. Kepulan asap yang mulai
membesar membuat warga segera melapor, dan laporan tersebut diterima secara
resmi oleh BPBD pada pukul 13:45 WITA.
Merespons laporan tersebut, tim Pusdalops segera
berkoordinasi dengan pimpinan dan menerjunkan personel reaksi cepat ke lokasi
kejadian. Setibanya di titik lokasi, tim mendapati api sudah membesar akibat
melahap material ilalang kering dan tanaman kebun yang sangat mudah terbakar.
Tanpa membuang waktu, proses pemadaman langsung diupayakan untuk memutus rantai
rambatan api agar tidak semakin meluas ke area permukiman.
Tantangan Berat: Krisis Air dan Kepungan Asap Pekat
Operasi pemadaman di Kampung Empas ini tidak berjalan
mudah dan diwarnai berbagai kendala teknis serta alam. Kendala paling krusial
yang dihadapi tim gabungan adalah tidak adanya sumber air di dekat titik api.
Sumber air terdekat berada pada jarak sekitar 2 kilometer
dari lokasi kebakaran. Hal ini memaksa tim di lapangan untuk memutar otak dan
menggunakan metode isi ulang suplai air secara bergantian. Armada DALKARHUTLA Slip-on
milik BPBD Kutai Barat dan unit Pemadam Kebakaran (PMK) Kecamatan Melak harus
mondar-mandir mengambil air, sebuah proses yang tak pelak membuat ritme
pemadaman berjalan cukup lambat.
Selain krisis air darurat, kondisi cuaca turut
memperburuk situasi. Tiupan angin yang cukup kencang tidak hanya membuat api
cepat menjalar, tetapi juga memicu kepulan asap yang sangat tebal dan pekat.
Visibilitas menurun drastis dan para petugas pemadam sempat kesulitan
mendapatkan asupan oksigen yang cukup saat berjibaku menyemprotkan air di garis
depan.
Keganasan asap pekat ini bahkan memakan korban dari
kalangan warga sipil. Seorang warga setempat bernama Sihar Sinaga (50)
dilaporkan jatuh pingsan akibat terlalu banyak menghirup asap Karhutla di
sekitar lokasi kejadian. Korban segera dievakuasi untuk mendapatkan
pertolongan.
Pengerahan Armada Maksimal dan Sinergi Lintas Sektor
Guna mengendalikan amukan api yang meluas hingga 10
hektare, operasi ini membutuhkan kekuatan penuh. Kekuatan armada taktis yang
dikerahkan ke lokasi mencapai tujuh unit kendaraan, yang meliputi:
1.
3 Unit Mobil DALKARHUTLA BPBD Kutai Barat
2.
1 Unit Mobil Rescue BPBD Kutai Barat
3.
1 Unit Mobil DALKARHUTLA Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi
(KPHP) Damai
4.
1 Unit Pemadam Kebakaran Kecamatan Melak
5.
1 Unit Mobil Toyota Hilux KPHP Damai
Keberhasilan menahan laju api ini tidak lepas dari
sinergi solid berbagai elemen. Personel gabungan yang terjun langsung ke
lapangan terdiri dari anggota BPBD Kutai Barat, KPHP Damai, PMK Kecamatan
Melak, relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) Kampung Empas, yang bahu-membahu
bersama masyarakat setempat.
Melalui rilis resminya pada pukul 18:20 WITA, Pusdalops
BPBD Kutai Barat menegaskan bahwa data luasan lahan dan dampak kerugian masih
bersifat sementara. Pihak BPBD terus berkoordinasi secara intensif dengan
aparat kampung dan kecamatan setempat untuk melakukan pendinginan (cooling
down) dan asesmen lanjutan.
Masyarakat Kutai Barat diimbau untuk terus meningkatkan
kewaspadaan, tidak membuka lahan dengan cara dibakar, dan segera melaporkan
kepada petugas jika melihat titik api sekecil apa pun di lingkungan sekitarnya.
Sumber Pusdalops : BPBD Kutai Barat