Logo Loader

Kebakaran Lahan Landa Kampung Empas Kutai Barat, Tim Gabungan Berjibaku di Tengah Kepungan Asap Pekat

BPBD 09 Juli 2026 1 bulan yang lalu 61 kali dibaca
Blog Image
Email :

KUTAI BARAT – Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) kembali menunjukkan ancamannya di wilayah Kabupaten Kutai Barat. Pada Kamis (9/7/2026) siang, si jago merah mengamuk dan melalap kurang lebih 10 hektare hamparan ilalang serta kebun milik warga di RT 01, Kampung Empas, Kecamatan Melak.

Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti munculnya titik api di area dengan koordinat -0.288342, 115.807628 tersebut masih menjadi misteri dan dalam tahap penyelidikan pihak berwenang.

 

Kronologi Kejadian dan Respon Cepat Tim Gabungan

Berdasarkan data terkini yang dihimpun oleh Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Barat, kemunculan api pertama kali diperkirakan terjadi pada pukul 13:15 WITA menurut kesaksian warga di lapangan. Kepulan asap yang mulai membesar membuat warga segera melapor, dan laporan tersebut diterima secara resmi oleh BPBD pada pukul 13:45 WITA.

Merespons laporan tersebut, tim Pusdalops segera berkoordinasi dengan pimpinan dan menerjunkan personel reaksi cepat ke lokasi kejadian. Setibanya di titik lokasi, tim mendapati api sudah membesar akibat melahap material ilalang kering dan tanaman kebun yang sangat mudah terbakar. Tanpa membuang waktu, proses pemadaman langsung diupayakan untuk memutus rantai rambatan api agar tidak semakin meluas ke area permukiman.

 

Tantangan Berat: Krisis Air dan Kepungan Asap Pekat

Operasi pemadaman di Kampung Empas ini tidak berjalan mudah dan diwarnai berbagai kendala teknis serta alam. Kendala paling krusial yang dihadapi tim gabungan adalah tidak adanya sumber air di dekat titik api.

Sumber air terdekat berada pada jarak sekitar 2 kilometer dari lokasi kebakaran. Hal ini memaksa tim di lapangan untuk memutar otak dan menggunakan metode isi ulang suplai air secara bergantian. Armada DALKARHUTLA Slip-on milik BPBD Kutai Barat dan unit Pemadam Kebakaran (PMK) Kecamatan Melak harus mondar-mandir mengambil air, sebuah proses yang tak pelak membuat ritme pemadaman berjalan cukup lambat.

Selain krisis air darurat, kondisi cuaca turut memperburuk situasi. Tiupan angin yang cukup kencang tidak hanya membuat api cepat menjalar, tetapi juga memicu kepulan asap yang sangat tebal dan pekat. Visibilitas menurun drastis dan para petugas pemadam sempat kesulitan mendapatkan asupan oksigen yang cukup saat berjibaku menyemprotkan air di garis depan.

Keganasan asap pekat ini bahkan memakan korban dari kalangan warga sipil. Seorang warga setempat bernama Sihar Sinaga (50) dilaporkan jatuh pingsan akibat terlalu banyak menghirup asap Karhutla di sekitar lokasi kejadian. Korban segera dievakuasi untuk mendapatkan pertolongan.

 

Pengerahan Armada Maksimal dan Sinergi Lintas Sektor

Guna mengendalikan amukan api yang meluas hingga 10 hektare, operasi ini membutuhkan kekuatan penuh. Kekuatan armada taktis yang dikerahkan ke lokasi mencapai tujuh unit kendaraan, yang meliputi:

1.     3 Unit Mobil DALKARHUTLA BPBD Kutai Barat

2.     1 Unit Mobil Rescue BPBD Kutai Barat

3.     1 Unit Mobil DALKARHUTLA Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Damai

4.     1 Unit Pemadam Kebakaran Kecamatan Melak

5.     1 Unit Mobil Toyota Hilux KPHP Damai

Keberhasilan menahan laju api ini tidak lepas dari sinergi solid berbagai elemen. Personel gabungan yang terjun langsung ke lapangan terdiri dari anggota BPBD Kutai Barat, KPHP Damai, PMK Kecamatan Melak, relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) Kampung Empas, yang bahu-membahu bersama masyarakat setempat.

Melalui rilis resminya pada pukul 18:20 WITA, Pusdalops BPBD Kutai Barat menegaskan bahwa data luasan lahan dan dampak kerugian masih bersifat sementara. Pihak BPBD terus berkoordinasi secara intensif dengan aparat kampung dan kecamatan setempat untuk melakukan pendinginan (cooling down) dan asesmen lanjutan.

Masyarakat Kutai Barat diimbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan, tidak membuka lahan dengan cara dibakar, dan segera melaporkan kepada petugas jika melihat titik api sekecil apa pun di lingkungan sekitarnya.

 

 

Sumber Pusdalops : BPBD Kutai Barat